hafizfaturrahman.com

Terima Kasih Ibu...

Piter, seorang pemuda asal Maluku, kini tengah melanjutkan studi jenjang sarjana di sebuah Perguruan Tinggi (PT) terkemuka di tempat yang terbilang jauh dari kota kelahirannya. Ya, berbanding terbalik dengan Maluku yang berada di Indonesia Timur, PT tersebut berada di Indonesia Barat, tepatnya di Jawa Barat. Ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di luar Maluku setelah ia pikir cita-citanya untuk menjadi seorang ahli tanaman hanya bisa didapatkan di PT yang memakai pertanian sebagai basis utamanya dan kebetulan ia mendapat beasiswa di PT tersebut selama 4 tahun. Namun sebenarnya, ia berat untuk meninggalkan ibu dan seorang adik tercintanya meski hanya untuk beberapa tahun. Hal yang membuatnya berat karena ayah yang biasa menemani mereka sudah tiada. Ayah Piter meninggal tiga bulan lalu akibat sakit keras. Sejak saat itu ibu Piter bekerja banting tulang setiap hari sebagai pembantu rumah tangga demi menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya.
Di tengah kebimbangan hati Piter, ibunya terus menyemangati Piter agar tetap berangkat menuju cita-citanya selama ini dan kemudian meyakinkan anak sulungnya itu untuk tidak mencemaskan keluarga disini. Sebelum pergi, ibu Piter berpesan agar mengabari jika sudah sampai di tempat tujuan.

Setelah empat jam perjalanan udara dari Bandara Pattimura sampai Bandara Soekarno-Hatta dan dilanjutkan dengan perjalanan darat selama dua setengah jam, sampailah Piter di perguruan tinggi yang menerimanya sebagai mahasiswanya. Langsung saja Piter melakukan registrasi mahasiswa baru di tempat yang telah ditentukan. Kurang lebih dua jam berada di tempat registrasi, akhirnya Piter keluar dan langsung melangkahkan kakinya ke kantor pos terdekat untuk mengirim surat guna mengabari keadaanya kepada ibunda tercinta. Saat itu Piter belum memiliki telepon seluler karena keterbatasan ekonomi di keluarganya. Seminggu kemudian keluarga di Maluku membalas suratnya. “Semoga cita-citamu tercapai dan kamu tidak boleh pulang sebelum jadi sarjana. :D”, isi dari surat balasan yang diterima Piter. Piter pun tersenyum dan berjanji dalam hati bahwa ia akan bawa pulang ijazah S1 atau bahkan S2 ke rumahnya.

Itulah cerita tiga tahun yang lalu, saat Piter pertama kali dinobatkan menjadi mahasiswa di kehidupannya. Meskipun telah tiga tahun lamanya, surat beserta isinya masih disimpan di dalam tasnya dan tak lupa di dalam hatinya. Karena baginya, surat itu merupakan motivasi paling tinggi dalam hidupnya sampai saat ini. Terbukti dengan banyaknya prestasi yang berhasil diraih oleh Piter, baik dalam kampus maupun antar kampus. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) miliknya pun jelas tak jauh dengan prestasinya, dari tahun pertama sampai tiga, IPK-nya tak jauh-jauh dari angka 3,8. Tapi baginya, semua itu belum lengkap sebelum ia mengikuti sidang skripsi hingga nantinya ikut serta dalam wisuda bersama teman-teman yang lain.

Terhitung dari sekarang, tepat satu tahun lagi jatah beasiswa yang diberikan kepadanya. Maka dari itu, Piter sedang usaha keras untuk menyelesaikan skripsinya tepat pada waktunya dan tak lupa mengikuti segala seminar yang memang harus ia ikuti. Meskipun telah mendapat beasiswa untuk menunjang hidupnya selama kuliah, Piter ternyata belum puas. Ia berpikir dana dari beasiswa sewaktu-waktu tak akan cukup untuk kebutuhan kuliahnya. Oleh karena itu, sejak semester 1 ia mencoba untuk berdagang makanan ringan di kelasnya. Melihat keuntungannya yang lumayan, tidak terasa telah dua tahun Piter menyelami usaha tersebut. Pada tahun ketiga, ia bersama temannya yang juga dari Maluku mencoba membuka usaha baru yang menyajikan makanan khas tempat kelahiran mereka di kios kecil nan sederhana. Namun, usaha mereka tidak mendapat respon yang baik dari masyarakat sekitar. Hingga mereka akhirnya menutup usaha tersebut dua bulan kemudian. Setelah sebulan penuh Piter sempat vakum berjualan. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka kembali usaha yang sempat ia bangun meski kali ini tidak bersama temannya yang tidak mau rugi lagi. Dengan doa dan “surat  motivasi” yang ia miliki, usaha Piter berhasil mencapai kesuksesan meskipun harus menunggu lebih dari satu tahun dan ia harus mengutang sana-sini. Sampai saat ini usahanya terus berkembang dan utang-utangnya lunas terbayarkan bahkan kini ia mempekerjakan dua orang karyawan untuk menghuni tempat usahanya yang sudah berubah menjadi agak besar.

Tak terasa perayaan wisuda untuk Piter tinggal 5 bulan lagi. Mengingat hal itu, Piter semakin semangat menyelesaikan skripsinya. Setengah bulan kemudian skripsinya selesai dan ia siap disidang. Sidang diadakan satu bulan lagi. Di waktu luangnya menunggu sidang, ia mengirimkan surat ke Maluku untuk memberitahukan bahwa studinya sudah hampir selesai dan mengharapkan doa dari keluarganya untuk kelancaran ujian akhir. Surat pun tiba di Maluku beberap hari kemudian. Ibu dan adiknya senang sekali mendengar hal itu. Ibunya pun mengimpikan untuk ikut dalam wisuda anak pertamanya itu.

Sehari sebelum sidang, Piter pun memantapkan diri dengan membaca lagi skripsi yang dibuatnya. Saat sedang serius membaca, ketukan pintu seakan menganggu konsentrasinya. Dengan muka agak kesal, Piter bangkit dan segera membuka pintu. Ternyata yang datang ialah pak pos yang membawa sebuah surat. Setelah melihat alamat pengirim, mukanya berubah 180 derajat menjadi senang. Ya, surat yang diterimanya berasal dari Maluku. Dengan tak sabaran, surat itu pun dibuka olehnya dan dengan secara tiba-tiba juga air matanya jatuh membuat tubuhnya lemas tak berdaya seolah pingsan. Isi dari surat itu memberitahukan kabar duka bahwa ibu tercintanya telah meninggal dunia. Dituliskan dalam surat ibunya terlalu memaksakan bekerja padahal tubuhnya sudah tak mampu. Di dalam kamar kost yang berukuran 4x4 meter, Piter meluapkan kesedihannya dengan berteriak sekencang-kencangnya sampai semua orang berdatangan ke kamarnya. Pada akhir kalimat yang ditulis adik semata wayangnya, diceritakan bahwa ibunya kerja pagi sampai malam tanpa henti untuk menambah tambahan dana agar bisa hadir pada wisuda Piter. Membaca kalimat yang sebenarnya belum selesai itu, tangisan Piter semakin keras karena seharusnya ia bisa membiayai hal tersebut jika ia tahu ibunya ingin sekali melihat wisudanya. Rencananya Piter ingin memberikan kejutan kepada keluarganya bahwa ia telah memiliki pekerjaan setelah ia dapat predikat sarjana nanti. Tapi semua itu terlambat. Piter menyesal sedalam-dalamnya dan ia ingin segera pulang agar bisa ikut memakamkan ibunya. Tapi ia melihat lagi kalimat terakhir surat itu dan terdapat pesan terakhir dari ibunya yang bunyinya agar Piter mengingat kembali pesan pertama darinya untuk tidak pulang sebelum ada gelar sarjana di namanya. Tangisan Piter pun sampai pada puncaknya. Semua orang yang berdatangan berusaha menenangkan Piter yang akhirnya pingsan

Keesokan harinya, ditengah kesedihan hatinya yang masih sangat dirasakannya, ia harus mengikuti sidang. Dengan tubuh yang lemas dan pikiran yang masih kacau-balau, Piter memasuki ruang sidang. Penguji yang melihat kondisi Piter, mempersilahkan Piter untuk menenangkan diri sejenak. Piter pun memejamkan matanya dan akhirnya ia menemukan sedikit semangatnya saat ia ingat pesan ibunya. “Kalau sudah begini apa yang bisa dilakukan untuk ibu kecuali mewujudkan cita-citaku dan sekaligus mewujudkan pesan pertamanya “, pikir Piter. Akhirnya sidang dimulai dan dilalui Piter dengan lancar.

Waktu wisuda pun telah datang. Meski dengan keadaan yang sangat tidak bagus, Piter mengikuti wisuda dengan baik. Beberapa hari kemudian, setelah ijazah telah ditangan dan gelar telah tersemat di nama. Piter bergegas pulang ke kampung halaman. Tak sabar ia bertemu adik, teman, dan para tetangga yang ia yakin pasti telah membantu banyak keluarganya. Di dalam pesawat, Piter berdoa dalam hatinya, “Tuhan, ampuni segala dosa ibu hamba. Berikan ia tempat terbaik disisi-Mu. Terima segala amal ibadahnya selama ini. Amin.” Di dalam pesawat ia juga menulis beberapa kalimat dalam secarik kertas. Tulisannya: “Terima kasih ibuku yang sangat kucintai. Maafkan aku yang belum bisa membalas jasamu sampai saat engkau dipanggil oleh-Nya.” Piter pun tak bisa menahan air matanya. Deras air matanya yang jatuh membuat tubuhnya lemas hingga tak sadarkan diri sampai ke kampung halamannya, Maluku.


“Kenyataan terkadang memang menyakitkan, tapi ingatlah tak pernah ada waktu yang cukup tuk menyesalinya, tinggal bagaimana kita melangkah lebih baik ke depannya.”

0 Response to "Terima Kasih Ibu..."

Post a Comment

Silakan berkomentar sesuai isi tulisan di atas.
Komentar Anda sangat berarti bagi perkembangan blog ini..
Terima Kasih :D

Terima Kasih Atas Kunjungannya - - Silahkan Datang Kembali
Bookmark blog ini (Ctrl+D) || Sewaktu-waktu mungkin dibutuhkan
Toko Online Gratis
HF corner Powered by Blogger