hafizfaturrahman.com

Selalu Ada Jalan Jika Kita Berusaha

Doni, seorang pemuda yang bercita-cita menjadi dokter, kini tengah menghadapi Ujian Nasional (UN) tingkat SMA di sekolahnya. Cita-citanya menjadi dokter dinilai terlalu tinggi dan mustahil untuk dicapai oleh kebanyakan orang. Mereka berpikir seperti itu karena penghasilan orangtua Doni yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan terlalu sedikit dan tidak menentu. Sedangkan biaya untuk menimba ilmu di fakultas kedokteran sangat tinggi. Namun, orangtua Doni tetap berjanji akan dapat membayar semua kebutuhan Doni sebagai anaknya.
Ujian nasional yang berlangsung selama empat hari dilalui Doni dengan baik dan lancar. Kini, ia dan teman-teman seangkatannya tinggal menunggu pengumuman kelulusan sebulan kemudian. Di masa-masa menunggu pengumuman, Doni membantu orangtuanya bekerja agar mendapat tambahan penghasilan yang nantinya bisa digunakan untuk membayar biaya kuliahnya. Selain membantu orangtua, Doni juga mempergunakan waktunya untuk melatih otaknya mengerjakan soal-soal SNMPTN dari buku kumpulan soal yang dipinjam dari kakak kelasnya.
Sekitar seminggu membantu orangtuanya bekerja, Doni berpikir untuk mencari pekerjaan lain yang lebih besar upahnya. Ia pun meminta izin kepada kedua orangtuanya dan ternyata orangtuanya mengizinkannya. Doni segera bergegas mencari pekerjaan kemana saja. Hingga akhirnya kakinya melangkah ke sebuah warung makan. Di warung tersebut, Doni menemui pemilik warung dan menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dikerjakannya. Nasib baik memang tengah menyelimuti Doni. Ia bisa mengisi bagian cuci piring yang sedang ditinggal pekerjanya pulang kampung selama 20 hari. Setelah mengetahui upahnya sebesar Rp200.000,00, Doni langsung menyetujuinya. Ia pun bekerja di warung tersebut. Setidaknya dengan uang sebesar itu, Doni dapat membayar ujian SNMPTN tanpa merepotkan orangtuanya.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa kelas 12 SMA termasuk Doni, yaitu hari dimana pengumuman kelulusan SMA. Pengumuman tersebut dikabarkan melalui pos yang dikirim  ke rumah masing-masing siswa. Namun karena Doni harus bekerja, ia harus rela menunggu sampai pekerjaan selesai untuk membuka surat kelulusannya. Selesai bekerja, Doni segera berlari ke rumahnya. Di rumahnya, orangtua Doni sudah menunggu kedatangan anak tunggalnya karena orangtuanya sudah berjanji akan membuka surat kelulusan bersama sang anak. Surat pun dibuka perlahan-lahan. Dan tiba-tiba ketiga orang tersebut berteriak, “Alhamdulillah,” secara serempak. Hal itu menandakan bahwa Doni berhasil lulus UN dan juga berarti tugas Doni sebagai seorang siswa telah berakhir.
Hari-hari berikutnya dilalui Doni dan keluarga kecilnya seperti biasa. Doni bekerja di warung makan dan orangtuanya bekerja sebagai buruh. Tak terasa hari itu tepat 20 hari Doni bekerja sebagai pencuci piring dan itu berarti pekerjaan sudah selesai. Doni pun mendapat upah sesuai perjanjian sebesar Rp200.000,00. Hari itu ternyata juga bertepatan dengan hari terakhir pendaftaran ujian SNMPTN. Doni bergegas ke bank untuk membayar dan ke warnet untuk melakukan pendaftaran.
Tibalah hari ujian SNMPTN. Doni mendapat tempat di sebuah SMA yang tak begitu jauh dari rumahnya. Dua hari ujian SNMPTN dilalui Doni dengan cukup lancar dan meyakinkan. Senyum kepuasan pun tertuang di wajah Doni saat ia keluar dari ruang ujian.
Besoknya Doni kembali membantu pekerjaan orangtuanya. Doni tampak semangat dengan pekerjaannya. Ketika berjalan pulang dari pekerjaannya, keluarga kecil itu bercerita banyak hal yang membuat mereka tertawa dan terlihat bahagia. Namun, ditengah kebahagiaan itu, terjadi suatu peristiwa naas terjadi. Saat sedang menyeberangi jalan raya, sandal jepit yang dikenakan ibunya Doni putus. Doni tidak menyadari bahwa ibunya tertinggal di tengah jalan, begitupun dengan ayahnya. Mereka baru menyadari saat mendengar bunyi benturan. Ya, bunyi itu ialah bunyi tabrakan antara sebuah mobil dengan ibunya Doni. Ayah Doni segera menghampiri istrinya yang sudah terkapar tidak bernyawa di jalan. Menyadari istrinya sudah tidak bernapas, ia langsung menghampiri pengendara mobil yang ternyata seorang pemuda untuk meminta pertanggungjawaban. Bukannya keluar dari mobil, pemuda tersebut justru melajukan mobilnya dan menabrak ayah Doni yang sedang berada di depannya. Melihat kejadian tersebut, Doni terdiam di tempat seolah tak percaya hal seperti itu terjadi pada keluarganya. Warga sekitar pun langsung menghampiri ayah Doni untuk memberikan bantuan jikalau masih bisa ditolong. Tapi, tak ada lagi yang bisa diperbuat. Ayah dan ibu Doni telah dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Seketika itu juga, tangisan Doni tumpah ruah di sepanjang jalan.
Setelah orangtuanya meninggal dunia, tekanan mental yang sangat dahsyat dialami Doni. Yang paling parah saat ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Untungnya, lingkungan tempat Doni tinggal selalu menyemangatinya sehingga Doni bisa kembali hidup seperti biasa dan kembali bersemangat untuk mengejar cita-citanya.
Tepat seminggu sebelum hari pengumuman SNMPTN, pikiran Doni kembali kacau. Kali ini mengenai keadaan ekonominya yang dirisaukannya. Sejak orangtuanya meninggal, otomatis penghasilannya berkurang. Uang yang kini ia miliki tidak cukup untuk ia melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Di tengah pikiran yang sedang tak karuan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Doni. Terlihat seorang laki-laki bertubuh cukup besar dan memakai pakaian layaknya seorang direktur sebuah perusahaan. Doni pun segera membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan orang tersebut masuk. Setelah mengobrol cukup lama, diketahuilah orang tersebut bernama Pak Sony yang merupakan orangtua dari pemuda yang telah menabrak kedua orangtuanya hingga akhirnya meninggal dunia. Tanpa sepengetahuan Doni, ternyata ada beberapa orang yang melaporkan peristiwa kecelakaan orangtuanya kepada polisi. Polisi pun langsung mencari pelaku penabrakan dan setelah 20 hari akhirnya bisa menangkap pelaku tersebut. Untuk meminta maaf kepada Doni, Pak Sony mencari tahu rumah Doni dengan menanyakan orang-orang yang ada di tempat kecelakaan itu terjadi. Selain meminta maaf, Pak Sony juga berjanji akan memberikan apapun yang Doni minta sebagai pengganti penghasilan orangtua Doni yang telah meninggal. Semula Doni tidak ingin meminta apa-apa karena ia berpikir nyawa kedua orangtuanya tidak dapat diganti dengan apapun. Namun akhirnya, Doni meminta agar Pak Sony membiayai kuliahnya nanti sampai ia lulus. Tanpa pikir panjang, Pak Sony langsung menyetujuinya.
Seminggu dirasakan Doni begitu cepat. Doni sudah bersiap di depan komputer di sebuah warnet untuk melihat hasil usahanya selama ini. Langsung saja ia membuka website SNMPTN. Secepat kilat Doni membaca nama-nama peserta yang lolos. “ALHAMDULILLAH, SAYA LOLOS,” teriak Doni yang seketika membuat orang-orang di warnet menatapnya dengan wajah penuh kebingungan. Doni pun langsung memberitahukan kabar gembira ini ke semua orang termasuk Pak Sony. Pak Sony mengucapkan selamat dan mengatakan kepada Doni agar memberitahukannya kapanpun Doni membutuhkan dana.
Singkat cerita, akhirnya Doni menimba ilmu di suatu perguruan tinggi terkemuka dengan jurusan impiannya, yaitu Kedokteran. Selama kuliah, Doni tinggal di sebuah kamar kos yang dibiayai oleh Pak Sony.  Setelah kurang lebih 5 tahun menimba ilmu kedokterannya, Doni akhirnya lulus dengan nilai sempurna. Tidak hanya lulus, Doni juga mendapat beasiswa meneruskan studinya di London, Inggris. Tanpa pikir panjang Doni menerima beasiswa tersebut. Sebelum meninggalkan tanah air, Doni  menyempatkan diri berkunjung ke kampung halamannya untuk berpamitan ke semua tetangganya yang telah menyemangatinya di saat dirinya terpuruk. Tak lupa Doni berkunjung ke rumah Pak Sony untuk mengucapkan terima kasih karena telah membiayai kuliahnya dan berjanji akan mengembalikan semua uang yang didapatnya meski Pak Sony menolaknya. Baginya, melihat kesuksesan Doni membuat dirinya senang dan bangga karena sudah memberikan sebagian hartanya ke orang yang tepat. Setelah berpamitan, Doni segera ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng. Pesawat menuju Inggris yang ditumpangi Doni pun berangkat dua jam kemudian. Di London, prestasi Doni terbilang sangat cemerlang. Ia selalu mendapat nilai terbaik di kelasnya  sehingga tak butuh waktu lama untuknya mendapat gelar Doktor. Doni sangat senang akan hal itu karena cita-cita yang selama ini diimpikannya telah TERCAPAI…
  

“MUDAH bagi TUHAN memberi keajaiban jika masih ada PERJUANGAN”

0 Response to "Selalu Ada Jalan Jika Kita Berusaha"

Post a Comment

Silakan berkomentar sesuai isi tulisan di atas.
Komentar Anda sangat berarti bagi perkembangan blog ini..
Terima Kasih :D

Terima Kasih Atas Kunjungannya - - Silahkan Datang Kembali
Bookmark blog ini (Ctrl+D) || Sewaktu-waktu mungkin dibutuhkan
Toko Online Gratis
HF corner Powered by Blogger